Syukurilah Semua Pemberian Allah SWT

Syukurilah Semua Pemberian Allah SWT

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Syukur terbagi ke dalam dua jenis :

1. Syukur Umum

2. Syukur Khusus

Syukur Umum terkait dengan dunia, misalnya bersyukur atas nikmat

seperti pakaian, makanan, harta, kesehatan, dan kendaraan.

Syukur Khusus terkait denga akhirat, misalnya bersyukur atas nikmat

seperti iman, tauhid, hidayah, bimbingan hingga bisa beribadah, istri shalihah,

anak-anak shalih, dan urusan akhirat lainnya.

Tragisnya, sebagian besar manusia hanya mengerjakan syukur umum,

karena menurut mereka, manfaatnya bisa dirasakan secara langsung.

Memang seperti itulah watak manusia.

Syarat-Syarat Syukur

Ibnu Al-Qayyim berkata, “Syukur seorang hamba terasa lengkap jika ia

memenuhi tiga syarat dan ia dikatakan orang bersyukur jika melengkapi

ketiga syarat itu.” Ketiga syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ia mengakui nikmat Allah pada dirinya.

2. Ia menyanjung Allah atas nikmat itu.

3. Ia menggunakan nikmat itu untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Mengakui nikmat Allah Ta’ala pada diri kita bisa dilakukan dengan cara

kita tidak mengklaim nikmat itu kita peroleh murni karena keahlian, atau

pengalaman, atau usaha, atau jabatan, atau status sosial, atau kekuatan kita.

Tapi kita nyatakan nikmat itu murni berasal dari Allah Ta’ala. Ketika Qarun

mengklaim nikmat pada dirinya murni ia peroleh karena keilmuannya. Karena itu,

Allah Ta’ala menenggelamkannya beserta istananya ke dalam bumi.

Jika seseorang mengakui nikmat pada dirinya berasal dari Allah Ta’ala,

otomatis ia menyanjung-Nya atas nikmat-nikmat itu. Jika seseorang meyakini

Allah Ta’ala pemberi nikmat dan menyanjung-Nya, maka ia tidak etis

menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Misalnya ia

mengembangkan hartanya secara ribawi, atau seseorang diberi kesehatan

tapi ia mendzalimi orang lain.

Jika kita melengkapi ketiga syarat syukur itu, Allah Ta’ala pasti menambah

nikmat-Nya pada kita dan memberkahi nikmat-Nya pada kita,

karena Dia berfirman,

Artinya : “…..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan

menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),

 maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim:7)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber : Buku “Taujih Ruhiyah – Pesan-pesan Spiritual Penjernih Hati” karya Abdul Hamid al-Bilali

 

Disunting dari Milinglist CR Yahoogroups

TENTANG MAULID NABI

Al Ustadz Muhammad Umar As SewedPada bulan Rabiul Awal ini, ada satu acara ritual tahunan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Kali ini kami coba sampaikan beberapa tanya jawab seputar acara ritual yang seakan-akan menjadi kewajiban untuk dilaksanakan setiap tahunnya ini. Mereka bertanya tentang masalah-masalah tersebut sebagai berikut:Apa hukum peringatan Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam?Peringatan Maulid adalah perkara bid’ah. Acara ini tidak pernah dikerjakan oleh shahabat radhiyallahu ‘anhum dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkannya. Sedangkan dalam masalah syariat agama ini, kita tidak bisa membuat cara ibadah sendiri, atau menguranginya dan menambahnya dengan cara-cara ibadah yang baru. Diriwayatkan oleh Aisyah, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak pernah ada daripadanya, maka hal itu tertolak.” (Mutafaqun ‘Alaih)Dalam riwayat yang lain Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak pernah ada perintah kami padanya, maka hal itu tertolak.” (Hadist Riwayat Bukhary Muslim)Jadi karena tidak ada tuntunan dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka amalan tersebut tertolak.Bukankah perkara ini adalah bid’ah hasanah?Jika kalian menganggap perkara tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), berarti kalian telah menganggap ada amalan ibadah yang baik yang belum diajarkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak diamalkan oleh para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Itu maknanya, kalian menuduh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkhianat, karena beliau tidak menyampaikan satu kebaikan yang kalian kerjakan sekarang ini (Perayaan Maulid Nabi -Pent).Padahal Rasulullah Sholallahu’Alaihi Wasallam tidak meninggalkan satu kebaikan pun, kecuali beliau telah mengajarkannya. Beliau bersabda (yang artinya), “Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian pada surga, kecuali sungguh telah aku perintahkan kalian semua dengannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka, kecuali aku telah melarang kalian dengannya.” (Hadist Riwayat Abu Bakar Al Hadad; Syaikh Al Albany telah menghasankannya dalam Ash Shahihah no 2886).Abu Dzar Al Ghifary Radhiyallahu ‘Anhu berkata (yang artinya), “Sungguh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah meninggalkan kami dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali telah disebutkan kepada kita ilmu tentangnya.” (Hadist Riwayat Ahmad)Yang demikian karena mengajarkan kebaikan adalah amanah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada setiap Rasul, sebagaimana diriwayatkan ‘Abdullah Bin ‘Amr  Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang teleh diketehuinya” (Hadist Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Imaraat bab Wujubul wafa’i bi bai’atil khulafa, juz 12/436)Perhatikan hadist di atas dengan baik. Kita akan dapatkan bahwa hadist ini menerangkan tentang tugas seluruh para Rasul yaitu mengajarkan kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan umat dari kejelekan yang diketahuinya.Kalau kalian menganggap ada kebaikan lain selain yang diajarkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka ada 2 kemungkinan:

  1. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengetahui dan kalian merasa lebih tahu dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
  2. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tahu tapi tidak menyampaikannya, ini berarti kalian menuduh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mengkhianati risalah dan tugas para Rasul yang telah disebutkan dalam hadist di atas.

Kedua kemungkinan di atas adalah mustahil, tidak mungkin bagi Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang ma’shum (terjaga dari kesalahan)Atau apakah kalian merasa lebih baik dari para shahabat Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, padahal merekan adalah manusia terbaik seteleh Rasulullah Sholallahiu ‘Alaihi Wasallam. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (Hadist Riwayat Bukhary-Muslim)Kalau acara yang kalian lakukan merupakan kebaikan, niscaya sudah dilakukan oleh generasi-generasi terbaik tersebut. Ingat agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artrinya), “Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah kucukupkan kepada kalian nikmatku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (Al Maidah: 3).Ingat, agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari in telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama kalian.”  (Al-Maidah:3)Maka kebid’ahan yang kalian anggap baik merupakan anggapan bahwa agama ini belum sempurna, hingga perlu penambahan bid’ah-bid’ah baru. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “….maka wajib atas kalian untuk mengikuit sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan hidayah. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan geraham kalian. Dan jauhkanlah dari kalian hal-hal yang baru, karena sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah sesat.”  (Haidst Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)Bagaimana dengan perkara baru seperti microphone, kendaraan bermesin, dan lain-lain yang belum pernah ada pada masa Rasulullah, bukankah itu merupakan bid’ah hasanah?Kalian jangan pura-pura bodoh! Perkara baru yang sedang kita bicarakan ini (dalam hadist di atas -pent) adalah dalam masalah agama. bukan dalam masalah keduniaan. Bukankah beliau bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami” ? Yang dimaksudkan dengan “urusan kami” maksudnya adalah perkara agama. Adapun dalam masalah dunia beliau bersabda, “Kalian lebih tahu dalam urusan dunia kalian” (Hadist Riwayat Muslim)Maksud kami kegiatan pada peringatan tersebut hanya dzikir dan pujian sholawat kepada Nabi. Bukankah itu semua kebaikan?Amal ibadah itu disamping bentuknya harus dikerjakan dengan tata cara Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, juga waktunya harus sesuai dengan tuntunan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.Dzikir untuk mengingat Allah telah dituntunkan untuk dikerjakan setiap hari seperti dzikir setelah shalat 5 waktu, dzikir pagi dan sore, dan lain-lain. Sedangkan mengkhususkan dzikir pada acara Maulid Nabi atau pada tanggal bulan tertentu membutuhkan dalil khusus tentangnya. Dan sudah dikatakan para ulama bahwa tidak ada satu hadist pun yang memerintahkan dzikir khusus pada Maulid Nabi. Apalagi pada pujian-pujian yang kalian baca pada acara tersebut seringkali terjatuh pada ghuluw dan tanathu (melampaui batas), seperti yang terdapat pada Barjanji dan Burdah Al Bushiri yang seringkali kalian baca pada acara-acara tersebut. Sebagai contoh adalah apa yang terdapat dalam Burdah Al Bushiri:Wahai semulia-mulianya makhluk, Aku tidak mendapati bagiku seorang pelindung selain engkau ketika terjadi bencana yang merata….Demikianlah kalian mengangkat kedudukan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sama dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan mengangkat beliau sebagai tempat bergantung dan tempat berlindung,sehingga ketika bencana menimpa, kalian berlindung kepada beliau. Ini adalah satu kesyirikan yang sangat berbahaya.Padahal Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Wahai Nabi), “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan (menaqdirkan) sesuatu kemudharatan pun kepada kalian dan tidak pula suatu kemanfaatan”. Katakan (Wahai Nabi),”Sesungguhnya sekali-sekali tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari adzab Allah dan sekali tidak emndapat tempat berlindung selain daripada-Nya”.”  (Al-Jin:21-22)Sedangkan shalawat yang dibaca dalam acara-acara kalian tersebut, disamping mengkhususkan pada waktu tersenut adalah kebid’ahan, juga shalawat-shalawat yang sering dibaca tersebut adalah shalawat bid’ah yang dibuat oleh orang tertentu. Diantaranya adalah sholawat Nariyah. Tidak ada satu riwayat (hadist -pent) pun yang mengajarkan sholawat seperti itu. Akhirnya kalian terjerumus dalam perkara ghuluw (melampaui batas) kembali.Coba perhatikan arti dari sholawat Nariyah tersebut: Ya Allah berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kita Muhammad, yang dengannya dilepaskan simpul-simpul, dibukanya kesulitan-kesulitan, dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan, didapatkannya harapan-harapan dan akhir yang baik, dan dimintanya hujan dengan wajahnya yang mulia. Dan kepada keluarganya serta para shahabatnya sejumlah apa yang ada untukmuApakah yang menakdirkan dan menentukan keselamatan, menghilangkan kesusahan dan memenuhi harapan-harapan adalah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam? Atau kalian bertawasul dengan wajah Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam? Keduanya adalah kesyirikan yang diharamkan.Tapi kami tidak mengetahui/memahami makna dari syair dan sholawat-sholawat tersebut….Jika kalian tidak mengetahui arti dari sholawat-sholawat bid’ah tersebut, maka hal itu adalah musibah. Karena kalian adalah orang-orang yang taklid buta, mengikuti sesuatu dalam keadaaan kalian tidak mengetahui isinya.Jika kalian telah mengetahui bahwa sholawat-sholawat tersebut mengandung kesyirikan dan ghuluw namun kalian tetap mengerjakannya, maka sungguh itu merupakan musibah yang lebih besar lagi, karena kalian menentang terhadap Al Qur’an dan As Sunnah dengan sengaja. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala melindungi kita dari segala macam kesyirikan dan kebid’ahan yang telah dibuat manusia dan menaqdirkan untuk selalu berada di atas kebaikan. Amin. Wallahu A’lam!Sumber: Bulletin dakwah Manhaj Salaf edisi 99 tahun 3
“Mereka Bertanya Tentang Maulud Nabi”

Meneladani Nabi Muhammad

Meneladani Muhammad
Oleh Prof Dr Komarudin Hidayat

Bagi umat Islam, sosok Muhammad lebih dilihat dan diposisikan sebagai seorang nabi, yang dalam setiap langkahnya senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu dari Allah SWT. Karena itu, sosok Muhammad kemudian sering dipersepsikan sebagai manusia super (superhuman) .

Padahal, berdasar keterangan yang tercantum dalam teks-teks Alquran, Muhammad juga manusia. Meski demikian, Muhammad telah membuktikan diri sebagai tokoh ideal, yang menjadi suri teladan bagi umat Islam dan juga manusia pada umumnya.

Misi utama Muhammad diturunkan ke bumi tak lain untuk membangun peradaban dunia, yang secara mikro untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri (li utammima makarim al-ahkhlaq). Karena itu, menarik dikaji bahwa kecintaan dan kekaguman masyarakat kepada sosok Muhammad sesungguhnya tidak hanya tersekat pada umat Islam saja, melainkan juga meliputi para pemerhati dan tokoh sejarawan masyhur yang berasal dari lintas agama.

Figur Muhammad dipandang sebagai tokoh pembaru dan tokoh sejarah yang tidak tertandingi. Riwayat hidupnya sangat transparan dan terang benderang dalam panggung sejarah dunia, dari masa kelahiran hingga akhir embusan napasnya. Sehingga terbuka bagi siapa pun untuk mengkaji perjalanan hidup putra Abdullah itu.

Kehidupan Muhammad mudah ditelaah secara ilmiah historis. Karena itu, banyak kaum pemerhati Islam dari Barat atau kaum Orientalis (meminjam istilah Edward Said) sangat mengagumi peranan dan prestasi Muhammad sebagai tokoh sejarah dan tokoh pembangun peradaban yang sangat berpengaruh hingga saat ini.

Bayangkan, putra Siti Aminah itu terlahir di hamparan padang pasir, di mana daerah itu hampir dipastikan tidak membuat orang luar tertarik untuk menaklukkan atau berkunjung karena kegersangan dan keganasannya. Muhammad juga tumbuh besar sebagai yatim piatu. Tempaan hidup dan petunjuk Allah telah memberikan kekuatan kepada dirinya untuk mengubah dataran padang pasir itu menjadi pusat peradaban (the center of civilization) yang sangat mengagumkan.

Bagi komunitas muslim, kekuatan ini dipahami sebagai bagian dari intervensi Tuhan lewat Jibril yang ditugaskan untuk membimbing setiap jejak dan langkah Muhammad. Tapi bagi orang yang tidak percaya pewahyuan, mereka tetap mengagumi sosok Muhammad sebagai penggerak dan pencetus peradaban baru di tanah Arab, yang kemudian meluas hingga memberikan warna-warni peradaban dunia.

Di akhir hayatnya, Muhammad mewariskan himpunan kitab suci Alquran, Hadits, serta tradisi yang masih berkembang sampai sekarang dan dipelihara secara militan oleh umat Islam. Bahkan, konsep kehidupan masyarakat yang ideal berhasil dia rumuskan, yang termanifestasikan dalam kehidupan kota Madinah.

Pola sosial masyarakat Madinah itu sendiri sesungguhnya merupakan konsep politik-sosiologis sebagai masyarakat yang beradab. Kata Madinah sendiri berarti madani atau berkeadaban. Itu ditandai dengan tegaknya pranata hukum, penghargaan pada pluralitas, toleransi, demokrasi, dan kekuatan ilmu pengetahuan, yang pada abad keenam itu bahkan dapat dikategorikan terlalu maju dibanding belahan bumi yang lain.

Sampai sekarang, warisan-warisan agung itu terbukti sesuai dengan prinsip modernitas (sahih likulli zaman wa makan), baik dalam ilmu pengetahuan ekonomi maupun politik. Prinsip-prinsip kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan ilmu pengetahuan, semuanya itu secara nilai sudah dikenalkan oleh Muhammad. Karena itu, bagi umat Islam, modernitas sama sekali tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Kalau saja dunia Islam saat ini acapkali bersitegang secara vis to vis dengan masyarakat Barat, itu sebenarnya tidak terletak pada dimensi keilmuan dan nilai keagamaan yang dipegang, melainkan lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi dan politik.

Dengan demikian, sosok Muhammad tetap menjadi model pemimpin bagi umat Islam yang tidak tertandingi. Di antara sekian banyak tokoh sejarah, ketika kita semakin meneliti dan mengenal semakin dekat, biasanya kita akan menemukan titik-titik kelemahannya. Tetapi, ini tidak berlaku pada sosok Muhammad. Banyak orang yang semula membenci, setelah mereka mempelajari secara jujur sejarah Muhammad, akhirnya mereka mengakui keluhuran pribadinya, kehebebatan ajarannya yang sejalan dengan hati nurani dan nalar sehat.

Salah satu peristiwa sejarah yang sangat menarik direnungkan adalah saat Muhammad berada di puncak kemenangannya saat menaklukkan Makkah, beliau justru bersikap rendah hati, tidak sombong, mengajak bertasbih, bertahmid, dan beristighfar kepada Allah. Bahkan, setiap perlakuan kasar dan tidak senonoh yang diterima dari para musuhnya dengan mudah dimaafkan.

Artinya, Muhammad memimpin umatnya dengan nalar kritis, dengan hati yang tulus, cinta kasih, dan sikap pemaaf. Sikap inilah yang perlu direnungkan dan diteladani oleh para pemimpin hari ini. Yakni, pemimpin yang mendorong peradaban yang ditopang dengan akal kritis dan melahirkan ilmu pengetahuan, dengan hati yang tulus yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan. Karena itu, wajar jika Muhammad menjadi tokoh panutan yang dicintai, yang mampu menggerakkan umatnya, dan selalu memberikan inspirasi brilian.

Karena itu, umat Islam hendaknya benar-benar memahami karakter kepemimpinannya secara komprehensif. Memang, kita perlu sepantasnya memberikan apresiasi kepada komunitas muslim Indonesia yang memiliki tradisi peringatan kelahiran Muhammad secara meriah. Tetapi, penghormatan itu hendaknya lebih daripada sekadar seremoni dengan mengalunkan shalawat nabi, tapi juga mempelajari riwayat hidupnya lebih serius dan ilmiah, untuk meneladani model kepemimpinannya.

Jangan sampai kita lebih gemar menyanjung dan menjadikan model teladan tokoh lain, sementara kita sendiri justru tidak akrab dan tidak kenal dengan pemimpin sendiri. Untuk itu, marilah umat Islam sekalian meneladani figur Muhammad sebagai spirit untuk membangun bangsa lewat kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. (aku)
Prof Dr Komarudin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Kasih Sayang Rasulullah

Kasih Sayang Rasulullah

Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis peri kemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Alloh Ta’ala hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh perasaan yang halus.

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata, yang artinya: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR: Al-Bukhari)

Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin. Asma’ binti ‘Umeis Radhiallaahu anha –istri Ja’far bin Abi Thalib- menuturkan, yang artinya: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: “Wahai Rasululloh, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” beliau menjawab: “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.” (HR: Ibnu Sa’ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ketika air mata Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menetes menangisi gugurnya para syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallaahu anhu bertanya: “Wahai Rasululloh, Anda menangis?” Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam”Ini adalah rasa kasih sayang yang Alloh Ta’ala letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah Ta’ala hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR: Al-Bukhari) menjawab:

Ketika air mata Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallaahu anhu bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR: Al-Bukhari)

Akhlak Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam yang begitu agung memotivasi kita untuk meneladaninya dan menapaki jejak langkah beliau. Pada zaman sekarang ini, curahan kasih sayang terhadap anak-anak serta menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya sangat langka kita temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin keluarga esok hari, mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya fajar yang dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran serta sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap para bocah dan anak-anak. Sementara Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam, kunci pembuka hati itu ada di tangan dan lisan beliau. Cobalah lihat, Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa membuat anak-anak senang kepada beliau, mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah mengherankan, karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi.

Setiap kali Anas bin Malik melewati sekumpulan anak-anak, ia pasti mengucapkan salam kepada mereka. Beliau berkata, yang artinya: “Demikianlah yang dilakukan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam .” (Muttafaq ‘alaih)

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam tidaklah marah, memukul, membentak dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.

Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha ia berkata, yang artinya: “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam , lalu beliau mendoakan mereka, pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memer-cikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR: Al-Bukhari)

Wahai pembaca yang mulia, engkau pasti mengetahui bahwa duduk di rumah Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam Shalallaahu alaihi wasalam selaku nabi umat ini, melakukan semua hal itu merupakan sebuah kehormatan. Lalu, tidakkah terlintas di dalam lubuk hatimu? Bermain dan bercanda ria dengan si kecil, putra-putrimu? Mendengarkan tawa ria dan celoteh mereka yang lucu dan indah? Ayah dan ibuku sebagai tebusannya, Rasululloh

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Shahihah no.70)

Anas bin Malik Radhiallaahu anhu menuturkan, yang artinya: “Rasululloh sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Radhiallaahu anha, beliau memanggilnya dengan: “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali.” (Zuwainab artinya: Zainab kecil) (Lihat Silsilah Hadits Shahih no.2141 dan Shahih Al-Jami’ 5-25)

Kasih sayang beliau kepada anak tiada batas, meskipun beliau tengah mengerjakan ibadah yang sangat agung, yaitu shalat. Beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasululloh dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih)

Mahmud bin Ar-Rabi’ Radhiallaahu anhu mengungkapkan, yang artinya: “Aku masih ingat saat Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menyemburkan air dari sebuah ember pada wajahku, air itu diambil dari sumur yang ada di rumah kami. Ketika itu aku baru berusia lima tahun.” (HR: Muslim)

Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa memberikan pengajaran, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Abdullah bin Abbas menuturkan: “Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, beliau bersabda, yang artinya: “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: “Jagalah (perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Alloh, pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Alloh, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR: At-Tirmidzi)

Telah kita saksikan bersama keutamaan akhlak dan keluhuran budi pekerti serta sejarah kehidupan yang agung. Semoga semua itu dapat menghidupkan hati kita dan dapat kita teladani dalam mengarungi bahtera kehidupan. Putra-putri yang menghiasi rumah kita, selalu membutuhkan kasih sayang seorang ayah serta kelembutan seorang ibu. Membutuhkan belaian yang membuat hati mereka bahagia. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan pribadi yang luhur dan akhlak yang lurus. Siap untuk memimpin umat, sebagai buah karya dari para ibu dan bapak, tentu saja dengan taufik dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam , Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)

 Sumber : Milinglist CR Yahoogroups

TEKA TEKI IMAM AL-GHAZALI

Teka Teki Imam Al-Ghazali

Suatu hari Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya dan kemudian beliau memberikan pertanyaan teka-teki…

Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu adalah janji Allah SWT bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (Surah Ali-Imran : 185).

Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf : 179).

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72).

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[*] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

[*]: Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allad SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.

Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.

Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”
Murid-murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Sumber  : Milinglist CR Yahoogroups

Dikejar seorang pengemis

DIKEJAR SEORANG PENGEMIS

                       

Ada apa seorang pengemis sampai mengejar seorang jama’ah haji…?

Seorang kawan ketika melakukan shalat di Masjid Nabawi, suatu saat pernah dikejar oleh seorang pengemis yang terus membuntutinya. Bahkan agar sang ‘target’ mengeluarkan uangnya, si pengemis sampai ‘berganti rupa’…”

Pak Musa, hari itu bernasib agak sial rupanya. Ketika ia mulai masuk Masjid Nabawi, ada seorang pengemis yang terus mengincarnya. Pak Musa tidak tahu bahwa ia menjadi sasaran ‘tembak’ seorang pengemis muda.

Ketika pak Musa shalat sunah sambil menunggu waktu shalat dhuhur, selalu saja pengemis tersebut membuntuti dan mendekatinya sambil menengadahkan tangannya sebagai tanda untuk minta uang.

Pengemis muda itu memberi tanda dengan telunjuknya bahwa ia minta uang satu real saja. Rupanya takut shalatnya tidak khusyu’ pak Musa menghindar dari tempat duduk pengemis berbaju kotor tersebut. Dan pak Musa pun berpindah tempat ke shaf lebih depan sambil melakukan shalat lagi. Harapannya semoga sang pengemis tidak mendekatinya lagi. Rupanya pak Musa tidak membawa uang satu real-an, sehingga permintaan pengemis itu ia abaikan begitu saja. Pikir pak Musa :

“..ah biarlah, toh nanti ketika pada saatnya saya bawa uang satu real-an, akan saya berikan pada para pengemis yang cukup banyak jumlahnya itu…”

Tetapi seolah pengemis tersebut mengetahui pikiran pak Musa. Ia terus mengejarnya. Dan terus minta uang satu real. Dan kembali pak Musa menghindar dengan cara ia berpindah ke tempat lain, dan masuk ke shaf yang lebih depan lagi.

Demi menghindari sang pengemis muda itu, sampai-sampai pak Musa berpindah tempat duduk sebanyak empat kali. Akhirnya ia merasa aman pada suatu shaf yang padat yang tidak mungkin diisi oleh pengemis yang terus mengejarnya itu. Ia lakukan hal itu agar tidak bertemu dengan pengemis yang mengejar terus dan minta uang satu real tersebut… Maka sekarang amanlah pak Musa dari uang satu real yang diinginkan oleh sang pengemis muda itu.

Pak Musa mendapat tempat duduk di suatu shaf yang betul-betul ‘aman’. Maka berdzikirlah pak Musa dengan khusyu’nya sambil menunggu waktu shalat dhuhur tiba.

Karena jama’ah di shafnya cukup padat dan rapat, maka ketika shalat dhuhur telah tiba dan semua berdiri untuk melakukan shalat, pada shafnya pak Musa tidak ada perubahan jamaah. Artinya tidak ada orang baru dalam shaf tersebut.

Maka shalat-lah pak Musa dengan khusyuknya. Tetapi sesekali hatinya masih ada rasa khawatir, akan orangnya pengemis muda yang misterius itu. Yang selalu minta uang satu real.

Setelah shalat dhuhur selesai, semua mengucap salam sebagai penutup shalat dhuhur. Demikian pula dengan pak Musa. Ia mengucap salam dengan mantapnya. Tanda shalat telah usai.

Tetapi begitu pak Musa mengucap salam kedua, sambil menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba jama’ah yang ada di sebelah kirinya, berkata kepada pak Musa dengan menggunakan bahasa inggris, yang maksudnya ia minta uang dan sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real

Ekspresinya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real untuk suatu keperluan yang tidak bisa ditunda lagi. “…ukh!” tanpa terasa pak Musa mengeluarkan suara tersendat tanda terkejut setengah mati akan kejadian yang sangat tiba-tiba tersebut.

Tanpa banyak bicara pak Musa pun mengeluarkan uang sepuluh real yang memang ada di sakunya. Ia merasa iba juga menyaksikan ekspresi wajah memelas dari orang tersebut.

Menghindar satu real, ‘terperangkap’ menjadi sepuluh real! Pak Musa hanya tersenyum memikirkan pengalamannya yang sangat unik tersebut.

Pulang dari masjid, pak Musa terus berpikir. Sungguh aneh pengalamannya hari itu. Ia menjadi semakin sadar bahwa dalam hidup ini ada suatu wilayah yang sangat misterius, yang manusia tidak sanggup menganalisisnya. Tetapi yang penting kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.

Sebuah pelajaran yang berharga adalah kadang tanpa sengaja kita telah berpaling dari orang-orang miskin, yang mungkin saat itu mereka sedang membutuhkan uluran tangan kita. Dan hari itu, pak Musa mendapatkan pelajaran baru. Bahwa siapa pun ternyata perlu untuk diperhatikan, walaupun sekedar seorang miskin, orang kecil yang bukan orang penting…

Al-Qur’an begitu banyak memberikan peringatan kepada kita tentang kelengahan kita terhadap orang-orang miskin.

QS. Al-Baqarah (2) : 83

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Bahkan Allah memperjelas dalam suatu ayat, bahwa tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin, termasuk mendustakan agama.

QS. Al-Mauun  (107) : 1-7

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Setelah memberi uang kepada orang di sebelahnya itu, pak Musa melanjutkan dzikir dan shalat sunah rawatib. Setelah itu, pak Musa tidak melihat lagi kemana perginya orang sebelah yang minta uang sepuluh real tadi.

Tetapi yang masih membayang di pikiran pak Musa adalah, betapa proses ia mengeluarkan uang sepuluh real tadi di awali oleh sebuah proses yang cukup unik yaitu munculnya pengemis muda yang minta uang satu real. Dan terus-menerus ia mengejarnya.

Dengan alasan agar shalat tidak terganggu oleh sang pengemis muda, dihindarinya pengemis itu. Tetapi akhirnya menghindar dari satu real, pak Musa harus mengeluarkan sepuluh real. Dan sang pengemis muda tadi seolah telah berganti wajah untuk ‘memaksa’ pak Musa mengeluarkan uang sepuluh real yang ada di sakunya.

Yang aneh adalah bahwa pengemis muda itu, sudah ‘menunggu’ di shaf yang akan dimasuki oleh pak Musa. Sungguh aneh, misterius…, tapi nyata. Kalau seseorang sudah ditakdirkan harus mengeluarkan uang, maka pasti akan terjadi juga, meskipun kita lari kemana saja…. pak Musa pun kembali tersenyum mengenang kejadian itu.

Ketika sampai di maktab berkatalah pak Musa kepada istrinya:

“…baru saja aku memperoleh sebuah pelajaran baru yang sangat menarik…”

QS. Ali ‘Imran (3) : 134

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

MENYESAL TIDAK MENANGIS

Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis…?

Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.

Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.

Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama’ah haji di kloterku. Ia berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.

Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab sambil lalu saja:

“…wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali menangis jika melakukan shalat di sini.” Jawabku.

Pak Sumo menimpali lagi :

Sering kali?… Mengapa bisa begitu ?” tukasnya. “Saya juga tidak tahu pak” jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.

Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik pelahan.

Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang mengajakku untuk berbincang-bincang…

Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.

:”Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa pada diri orang itu?”

Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:

“… mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang menyebabkannya?” Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa itu bisa terjadi.? ” Katanya lagi.

Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf masing-masing untuk mengikuti shalat berjama’ah.

Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama sambil nunggu shalat berjama’ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid itu.

Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali dosa-dosanya. :”…tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya.” Katanya lagi.

Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya, dan penuh semangat.

Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama’ah se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. “Ada apa gerangan pak Sumo?” tanyaku.

Setelah sejenak mamandang kepadaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo’a. Bahkan ketika pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih basah oleh air mata.

Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri sendiri… Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia…

Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.

Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.

Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.

Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, rupanya pak Sumo telah ‘mampu’ menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti dari menangisnya…

Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.

Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.

QS. Al-Baqarah (2) : 7

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

QS. Al-Baqarah (2) : 10

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

QS. Ali Imran (3) : 8

(Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

QS. Al-Maidah (5) : 13

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

QS. Al-An’am (6) : 25

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Filsafat Ilmu

Filsafat Ilmu

Oleh : Reza Ervani

Bismilahirrahmanirrahiim

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Al Quran Al Karim Surah Ali Imran ayat 190-191)

  1. Merenungkan Penciptaan Langit dan Bumi, dan bergantinya siang dan malam

Ada sunatullah, hukum-hukum alam, formulasi fisika, pola serasi yang membina langit dan bumi. Ilmu yang kita punya semata-mata hanya merupakan interpretasi dari semua itu

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Al Quran Al Karim Surah Ar Rahman ayat 7-9)

  1. Mencari Tanda-tanda Kebesaran Allah

“Tafakkaru fii khalqillah wa laa tafakkaru fi dzatillah”

Ah, sepandai-pandainya engkau, sekali lagi, yang sedang kau pelajari hanya tanda-tanda kebesarannya. Di cakupan ruang dan waktu ini, kau hanya sedang belajar tentang ayat-ayatNya, hingga saat nanti Ia izinkan engkau bertemu denganNya.

  1. Mereka berpegang pada iman sebagai akar ilmu à melahirkan ketekunan

Berpegang pada patok iman, agar kau tak terlempar jauh dan tak bisa kembali. Saat ada hubungan yang belum kau temukan kaitannya, kembalikan kepada Sang Penguasa Yang Maha Tahu segalanya. Ia akan anugerahkan engkau ketekunan dalam lingkaran luas yang sejuk.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.

(Al Quran Al Karim Surah Al Qashash ayat 80)

  1. Memanfaatkan ilmu à sebuah interpretasi amal à melahirkan teknologi

Silahkan merambah lahan ilmu seluas-luasnya, tapi agar ada manfaatnya, amalkan, interpretasikan dalam karya, yang biasa kita sebut sebagai teknologi. Agar perguruan tinggi tak jadi menara gading, agar semakin tinggi ilmu, semakin terang pula cahaya pencerahan pada masyarakat awam.

  1. Penghambaan

Setelah kau dapatkan, tunduk sujud. Karena semakin kau tahu, semakin sadarlah engkau bahwa dirimu tak setara setitik debu di lautan ilmuNya yang Maha Luas. Kau mintakan padaNya agar ilmu tak membawamu kepada logika tak bertuan. Kau mintakan agar ilmuNya menjaga ilmu yang diamanahkan padamu.

Selamat Mencari Ilmu

Allahu’Alam

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!