DIKEJAR SEORANG PENGEMIS
Ada apa seorang pengemis sampai mengejar seorang jama’ah haji…?
Seorang kawan ketika melakukan shalat di Masjid Nabawi, suatu saat pernah dikejar oleh seorang pengemis yang terus membuntutinya. Bahkan agar sang ‘target’ mengeluarkan uangnya, si pengemis sampai ‘berganti rupa’…”
Pak Musa, hari itu bernasib agak sial rupanya. Ketika ia mulai masuk Masjid Nabawi, ada seorang pengemis yang terus mengincarnya. Pak Musa tidak tahu bahwa ia menjadi sasaran ‘tembak’ seorang pengemis muda.
Ketika pak Musa shalat sunah sambil menunggu waktu shalat dhuhur, selalu saja pengemis tersebut membuntuti dan mendekatinya sambil menengadahkan tangannya sebagai tanda untuk minta uang.
Pengemis muda itu memberi tanda dengan telunjuknya bahwa ia minta uang satu real saja. Rupanya takut shalatnya tidak khusyu’ pak Musa menghindar dari tempat duduk pengemis berbaju kotor tersebut. Dan pak Musa pun berpindah tempat ke shaf lebih depan sambil melakukan shalat lagi. Harapannya semoga sang pengemis tidak mendekatinya lagi. Rupanya pak Musa tidak membawa uang satu real-an, sehingga permintaan pengemis itu ia abaikan begitu saja. Pikir pak Musa :
“..ah biarlah, toh nanti ketika pada saatnya saya bawa uang satu real-an, akan saya berikan pada para pengemis yang cukup banyak jumlahnya itu…”
Tetapi seolah pengemis tersebut mengetahui pikiran pak Musa. Ia terus mengejarnya. Dan terus minta uang satu real. Dan kembali pak Musa menghindar dengan cara ia berpindah ke tempat lain, dan masuk ke shaf yang lebih depan lagi.
Demi menghindari sang pengemis muda itu, sampai-sampai pak Musa berpindah tempat duduk sebanyak empat kali. Akhirnya ia merasa aman pada suatu shaf yang padat yang tidak mungkin diisi oleh pengemis yang terus mengejarnya itu. Ia lakukan hal itu agar tidak bertemu dengan pengemis yang mengejar terus dan minta uang satu real tersebut… Maka sekarang amanlah pak Musa dari uang satu real yang diinginkan oleh sang pengemis muda itu.
Pak Musa mendapat tempat duduk di suatu shaf yang betul-betul aman. Maka berdzikirlah pak Musa dengan khusyu’nya sambil menunggu waktu shalat dhuhur tiba.
Karena jama’ah di shafnya cukup padat dan rapat, maka ketika shalat dhuhur telah tiba dan semua berdiri untuk melakukan shalat, pada shafnya pak Musa tidak ada perubahan jamaah. Artinya tidak ada orang baru dalam shaf tersebut.
Maka shalat-lah pak Musa dengan khusyuknya. Tetapi sesekali hatinya masih ada rasa khawatir, akan orangnya pengemis muda yang misterius itu. Yang selalu minta uang satu real.
Setelah shalat dhuhur selesai, semua mengucap salam sebagai penutup shalat dhuhur. Demikian pula dengan pak Musa. Ia mengucap salam dengan mantapnya. Tanda shalat telah usai.
Tetapi begitu pak Musa mengucap salam kedua, sambil menoleh ke sebelah kiri, tiba-tiba jama’ah yang ada di sebelah kirinya, berkata kepada pak Musa dengan menggunakan bahasa inggris, yang maksudnya ia minta uang dan sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real
Ekspresinya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang membutuhkan uang sebesar sepuluh real untuk suatu keperluan yang tidak bisa ditunda lagi.
ukh! tanpa terasa pak Musa mengeluarkan suara tersendat tanda terkejut setengah mati akan kejadian yang sangat tiba-tiba tersebut.
Tanpa banyak bicara pak Musa pun mengeluarkan uang sepuluh real yang memang ada di sakunya. Ia merasa iba juga menyaksikan ekspresi wajah memelas dari orang tersebut.
Menghindar satu real, ‘terperangkap’ menjadi sepuluh real! Pak Musa hanya tersenyum memikirkan pengalamannya yang sangat unik tersebut.
Pulang dari masjid, pak Musa terus berpikir. Sungguh aneh pengalamannya hari itu. Ia menjadi semakin sadar bahwa dalam hidup ini ada suatu wilayah yang sangat misterius, yang manusia tidak sanggup menganalisisnya. Tetapi yang penting kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.
Sebuah pelajaran yang berharga adalah kadang tanpa sengaja kita telah berpaling dari orang-orang miskin, yang mungkin saat itu mereka sedang membutuhkan uluran tangan kita. Dan hari itu, pak Musa mendapatkan pelajaran baru. Bahwa siapa pun ternyata perlu untuk diperhatikan, walaupun sekedar seorang miskin, orang kecil yang bukan orang penting…
Al-Qur’an begitu banyak memberikan peringatan kepada kita tentang kelengahan kita terhadap orang-orang miskin.
QS. Al-Baqarah (2) : 83
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
Bahkan Allah memperjelas dalam suatu ayat, bahwa tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin, termasuk mendustakan agama.
QS. Al-Mauun (107) : 1-7
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Setelah memberi uang kepada orang di sebelahnya itu, pak Musa melanjutkan dzikir dan shalat sunah rawatib. Setelah itu, pak Musa tidak melihat lagi kemana perginya orang sebelah yang minta uang sepuluh real tadi.
Tetapi yang masih membayang di pikiran pak Musa adalah, betapa proses ia mengeluarkan uang sepuluh real tadi di awali oleh sebuah proses yang cukup unik yaitu munculnya pengemis muda yang minta uang satu real. Dan terus-menerus ia mengejarnya.
Dengan alasan agar shalat tidak terganggu oleh sang pengemis muda, dihindarinya pengemis itu. Tetapi akhirnya menghindar dari satu real, pak Musa harus mengeluarkan sepuluh real. Dan sang pengemis muda tadi seolah telah berganti wajah untuk ‘memaksa’ pak Musa mengeluarkan uang sepuluh real yang ada di sakunya.
Yang aneh adalah bahwa pengemis muda itu, sudah ‘menunggu’ di shaf yang akan dimasuki oleh pak Musa. Sungguh aneh, misterius…, tapi nyata. Kalau seseorang sudah ditakdirkan harus mengeluarkan uang, maka pasti akan terjadi juga, meskipun kita lari kemana saja…. pak Musa pun kembali tersenyum mengenang kejadian itu.
Ketika sampai di maktab berkatalah pak Musa kepada istrinya:
“…baru saja aku memperoleh sebuah pelajaran baru yang sangat menarik…”
QS. Ali ‘Imran (3) : 134
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
MENYESAL TIDAK MENANGIS
Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis…?
Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.
Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.
Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama’ah haji di kloterku. Ia berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.
Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab sambil lalu saja:
“…wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali menangis jika melakukan shalat di sini.” Jawabku.
Pak Sumo menimpali lagi :
“Sering kali?… Mengapa bisa begitu ?” tukasnya. “Saya juga tidak tahu pak” jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.
Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik pelahan.
Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang mengajakku untuk berbincang-bincang…
Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.
:”Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa pada diri orang itu?”
Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:
“… mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang menyebabkannya?” Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa itu bisa terjadi.? ” Katanya lagi.
Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf masing-masing untuk mengikuti shalat berjama’ah.
Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama sambil nunggu shalat berjama’ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid itu.
Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali dosa-dosanya. :”…tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya.” Katanya lagi.
Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya, dan penuh semangat.
Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama’ah se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. “Ada apa gerangan pak Sumo?” tanyaku.
Setelah sejenak mamandang kepadaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo’a. Bahkan ketika pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih basah oleh air mata.
Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri sendiri… Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia…
Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.
Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.
Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.
Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, rupanya pak Sumo telah ‘mampu’ menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti dari menangisnya…
Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.
Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.
QS. Al-Baqarah (2) : 7
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
QS. Al-Baqarah (2) : 10
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
QS. Ali Imran (3) : 8
(Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
QS. Al-Maidah (5) : 13
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
QS. Al-An’am (6) : 25
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com